Uncategorized

“Sapi Qurban naik pompong: Potret Perjuangan Distribusi Hewan Qurban di Daerah Perairan”

Pulau Burung (5/6), Di sudut negeri yang jauh dari keramaian kota, gema Idul adha tetap bergema penuh makna. Di Desa Mayang Sari Kecamatan Pulau Burung Kabupaten Indragiri Hilir, pendistribusian hewan qurban bukan sekadar rutinitas tahunan melainkan adalah kisah perjuangan, kebersamaan, dan ketulusan.

Pemandangan unik dan penuh makna terlihat di Desa Mayang Sari pada Rabu Siang (4/6), dua ekor sapi dituntun naik ke atas pompong yang merupakan perahu kayu bermesin khas daerah berlahan gambut dan berair ini biasanya digunakan sebagai alat transportasi utama di daerah pesisir, ditata dengan hati-hati di antara tumpukan jerami dan rumput agar hewan qurban tetap tenang selama perjalanan. Perahu yang biasanya digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari kini berubah menjadi kendaraan mulia, mengantar hewan qurban menyusuri sungai sempit yang dikelilingi oleh hamparan hijau pohon kelapa sawit dan rawa.

Proses distribusi hewan qurban dipimpin oleh ketua Pimpinan Cabang (PC) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Pulau Burung, Bapak Sumeri. Dengan penuh semangat, beliau bersama warga dan panitia qurban lainnya turut terlibat langsung dalam pengangkutan hewan qurban tersebut. Tak ada jalan darat yang mudah menuju lokasi, jalur air adalah satu-satunya harapan. Namun, keterbatasan akses tidak menyurutkan semangat para relawan.

“Kami ingin memastikan bahwa jarak dan akses jalan yang sulit tidak menjadi penghalang bagi warga untuk melaksanakan qurban sehingga bisa merasakan kebahagian dan semarak Idul Adha, ini bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi tentang pengorbanan, keikhlasan dan amanah warga yang ikut berqurban untuk diwujudkan walaupun sampai ke pelosok Desa,” ujar sumeri.

Setibanya di desa tujuan, sapi-sapi itu akan diserahkan kepada panitia Masjid Nurul Huda Desa Mayang Sari, dan akan disembelih pada tanggal 10 Dzulhijjah 1446 H sesuai syariat, dan dagingnya dibagikan kepada keluarga-keluarga yang jarang menikmati daging sepanjang tahun.

Di balik perjalanan sederhana ini, PC LDII Pulau Burung berharap tersimpan makna yang dalam bahwa qurban adalah pengorbanan dan berbagi cinta paling nyata. Semangat gotong royong dan kepedulian sosial serta memperkuat ukhuwah islamiyah yang terjalin di atas aliran sungai ini menjadi pengingat bahwa meski jarak memisahkan, semangat kemanusiaan selalu menemukan jalannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *